Cari Blog Ini

Home » , » Sebuah Kisah Asmara Yang Mengharukan

Sebuah Kisah Asmara Yang Mengharukan

Posted by TAOO Revo on Sabtu, 22 November 2014


Ini adalah cerpen berdasarkan kisah nyata, yang mengisahkan tentang asmara antara Edi dan Nayla (bukan nama sebenarnya). Dan bisa jadi ini adalah kisah yang mengharukan bagi yang membacanya.

Suatu ketika Edi main ke rumah Bilal, teman satu kampung. Setelah bertemu beberapa saat, mereka berdua merasa lapar lantas kemudian mencari makan di warung. Sesampai di warung Edi dan Bilal memesan menu makan yang sama, yakni bakmi ketoprak dan es teh sebagai pelepas dahaga. Ruangan meja makan di warung terlihat tidak terlalu ramai hanya ada dua pasang sejoli yang sedang menikmati nasi Soto. Bilal melihat ekspresi Edi ketika melihat pasangan sejoli itu terlihat bahagia, dengan senyum dan tawa sembari makan. Dia seperti banyak pikiran yang membebani pada dirinya. Sebelum Bilal memulai pembicaraan, Edi  mendahului....

Edi: Dulu aku pernah seneng sama cewek, dia berdarah Pakistan.... namanya Nayla
Bilal: Terus...  Masih lanjut??
Edi: Orangnya cantik, ramah, pokoknya baik hatinya. Aku pacaran selama hampir 2 tahun
Bilal: Wow, terus kalau kamu kenapa gak segera dilamar saja gitu?
Edi: Itu juga dapetnya gak sengaja...dapet di RS Oen Solo waktu nganter saudara periksa katarak. Kami sangat dekat sekali bahkan menurutku gak ada yang mungkin bisa memisahkan kecuali Allah....

Bilal: Romantis.. :p
Edi: Itu dulu Lal....  Sekitar 1 tahun yang lalu.
Bilal: Loh koq??
Edi: Aku sangat sayang dia pun demikian...
Bilal: Kamu cinta dia?
Edi: Terus terang aku bukan orang yang munafik. Hampir semuanya telah kami lakukan atas dasar saling mencintai kecuali yang "satu" itu tapi hampir cuma gak jadi. Setelah lama kami berhubungan niat mau aku lamar.
Tapi ada masalah dari orang tua Nayla...
Dia bilang karena kerjaku seorang wiraswasta yang gak jelas, mungkin khawatir anaknya akan tersia2kan...
Rupanya orang tuanya itu mencari cara agar anaknya gak mau hubungan sama aku.
Semulanya aku gak tahu tapi lama kelamaan aku jadi curiga... Kenapa begitu mau aku lamar selalu saja ada alasan untuk menunda-nunda. Sedangkan kami sudah hampir seperti suami istri.

Ekpresi Edi terlihat sedih lalu kepalanya menunduk, kedua telapak tangan menutupi kedua wajahnya. Terdengar helaan nafas panjang berkeluh.

Edi: Masya Allah......
Akhirnya karena aku membaca situasi yang tidak baik, aku mengambil inisiatif, untuk menikah siri dan apabila nanti terjadi sesuatu aku minta Nayla supaya kawin lari...
Pokoknya semakin hari semakin rumit hubungan kami itu

Bilal bengong apa yang diceritakan Edi.

Edi: Kamu paham kan yang aku ceritakan?
Bilal: Iy...Iyaaa. Terus?
Edi: Singkatnya, Nayla gak mau nikah siri.... Karena yakin orang tuanya setuju dengan hubungan kami...
Bilal:  Wow, menarik juga ceritamu itu.
Edi: ...Ehm, curiganya lagi ada pihak ketiga yang juga senang sama Nayla.
dia memang lebih kaya tapi kalo masalah ganteng... insya Allah lebih ganteng aku.. heeee.
Bilal: Hahahaha, bisa saja kamu.

Edi: Suatu ketika Nayla masih kuliah, disuruh pindah kuliah ke Semarang USM dgn alasan yg aku gak tau... Tapi Nayla gak mau dia tetap ingin kuliah di Solo, karena aku ada kesibukan dengan pekerjaan, maka hubunganku dengan dia agak renggang...
Maksudku ini kan demi masa depan kami jadi pacaran dinomor duakan untuk sementara waktu.
Karena kesibukanku yang luar biasa, aku jadi jarang apel tapi telpon tetap jalan terus.
Aku ingat sekali pada saat itu aku ada di perjalanan pulang sambil nyetir aku telpon dia berkali-kali tapi gak aktif...
setelah sampai didepan rumah aku telpon dia lagi tapi tetap juga tidak aktif.
Perasaanku sudah macem-macem... sampai-sampai pas ketemu manager pak Adnan aku jadi gak bisa konsen.
Setelah selesai... Langsung aku kebut menuju rumahnya... Setelah sampai ternyata semuanya sudah tidak ada kecuali ibu Nur pembantunya. Aku tanya perginya kemana, dia jawab tidak tau.........

Bilal terpaku dalam duduknya, pandangannya tertuju pada mata Edi.

Bilal: Kamu menangis Ed?
Edi: Lal sahabatku, a..a..aku tidak bisa menahan emosiku.

Bilal: Ayolah sobat jangan bersedih, aku yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik. Kejadian ini biarlah menjadi pelajaran. Aku yakin dari semua itu pasti ada hikmahnya.

Edi: Tanpa terasa... Betapa cengengnya aku ini. Sampai sekarang aku trauma dengan cinta,... ya Allah.

Edi berdiri dari tempat duduknya lalu kemudian keluar meninggalkan warung.
Bilal: Hei bro, kok malah kabur. Hooi bro, wah gila malah gak jadi makan, huft............



Penulis
- W.A.

Thanks for reading & sharing TAOO Revo

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts